Rabu, 27 Mei 2026

Sorong Selatan

Persalinan Lewat Nakes di Sorong Selatan Rendah, IBI Ungkap Alasan Utamanya

Cakupan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di Kabupaten Sorong Selatan rendah.

Tayang:
Penulis: Astri | Editor: Petrus Bolly Lamak
zoom-inlihat foto Persalinan Lewat Nakes di Sorong Selatan Rendah, IBI Ungkap Alasan Utamanya
TribunSorong.com/Astri
RUANG BERSALIN - Ruang bersalin RSUD Scholoo Keyen Kabupaten Sorong Selatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sorong Selatan menunjukan persentasenya baru mencapai 40,7 persen atau sekitar 4 dari 10 perempuan usia produktif pernah kawin melahirkan dengan bantuan tenaga medis profesional. 
Ringkasan Berita:

TRIBUNSORONG.COM, TEMINABUAN - Cakupan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di Kabupaten Sorong Selatan rendah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sorong Selatan menunjukan persentasenya baru mencapai 40,7 persen atau sekitar 4 dari 10 perempuan usia produktif pernah kawin  melahirkan dengan bantuan tenaga medis profesional. 

Baca juga: Wilayah Kerja KUA Teminabuan Sorong Selatan Luas, Lengkapi Dokumen Ini Agar Daftar Nikah Lancar

Sisanya masih melahirkan tanpa bantuan tenaga kesehatan yang kemungkinan besar ditolong oleh dukun beranak, keluarga, atau pihak nonmedis lainnya dengan fasilitas terbatas.

Data BPS itu dipublikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat (INKESRA) 2025 yang dirilis pada 24 Desember 2025.

Baca juga: 3 Penyebab Angka Pernikahan di KUA Sorong Selatan Menurun Drastis 2 Tahun Terakhir, Peran Usia Catin

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sorong Selatan Bdn. Magdalena Bulan mengatakan capaian tersebut masih jauh dari standar ideal.

“Memang angka persalinan oleh tenaga kesehatan masih jauh di bawah, seharusnya di atas 50 persen, bahkan kalau bisa 100 persen,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Ia menegaskan seluruh persalinan seharusnya difasilitas kesehatan atau pendampingan tenaga medis demi menjamin keselamatan ibu dan bayi.

Magdalena menilai rendahnya angka persalinan oleh tenaga kesehatan di Sorong Selatan tidak terlepas dari kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur, terutama di wilayah kampung dan daerah pelosok yang jauh dari pusat pemerintahan kabupaten.

Baca juga: Gedung GKI Jemaat Bahtra Injil Kais, Bangunan Unik Peninggalan Belanda di Sorong Selatan

Alasan lain yaitu minimnya partisipasi dan kesadaran masyarakat yang tinggal di perkampungan. 

Di sejumlah kampung di Sorong Selatan, dukun beranak masih menjadi alternatif utama dalam proses persalinan.

“Ke depan mungkin lebih diupayakan bidan-bidan di pelosok, misalnya di puskesmas yang jauh dari ibu kota kabupaten, untuk mengedukasi ibu-ibu hamil supaya mau melahirkan dengan tenaga kesehatan,” ujar Magdalena.

Baca juga: Warga Sorong Selatan Makin Mudah Bikin Kartu Kuning, Disnakertrans Buka Layanan Daring

Ia menilai selain peningkatan jumlah dan distribusi bidan, pendekatan edukatif dan kultural kepada masyarakat menjadi hal yang sangat penting sebagai langkah menekan angka kematian ibu dan bayi di Sorong Selatan.

“Ke depan kami sebagai organisasi profesi akan lebih giat lagi mengedukasi, memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu bersalin, maupun ibu nifas, agar selalu memeriksakan kesehatannya di fasilitas kesehatan,” katanya. (tribunsorong.com/astri)

Sumber: TribunSorong
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved