Sastra Papua Barat Daya
Nelagi Moi Menyuarakan Keresahan Hutan dan Identitas Lewat Sastra
Fransina Masinau seorang Nelagi (perempuan Suku Moi) memilih sastra sebagai medium perjuangannya.
Penulis: Safwan | Editor: Petrus Bolly Lamak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sorong/foto/bank/originals/20251010_Sastwa-sorong.jpg)
TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Fransina Masinau seorang Nelagi (perempuan Suku Moi) memilih sastra sebagai medium perjuangannya.
Baca juga: Komunitas Rumah Kata Gelar Kemah Bengkel Sastra di Sorong, Bidik Generasi Penulis Muda Papua
Ia menulis puisi sebagai respons atas keresahan terhadap pembukaan hutan sagu mereka untuk proyek besar seperti perkebunan kelapa sawit.
"Saya mulai belajar menulis sastra (puisi) dari sebuah keresahan saat hutan kami dibuka buat sawit dan proyek besar," kata Wanita 25 tahun itu.
Baca juga: TBM Rumah Kata Sorong Gelar Buka Puasa dan Pentas Sastra, Semarakkan Literasi Anak Muda
Keterlibatannya dengan teman sejawat di kampus dan Rumah Kata Sorong memacunya merangkai kata.
Hingga kini, perempuan asal Kampung Ninjemur, Distrik Moisigin, Kabupaten Sorong telah menghasilkan puluhan karya.
Di antaranya puisi berjudul ‘Rintian Bumi Cenderawasih’ dan ‘Hutan Mimpi.’
Dalam karya-karyanya, ia meluapkan isak tangis masyarakat adat Suku Moi akibat hutan yang dibuka dan tanah yang dirampas mengancam identitas mereka.
“Saya menyisipkan pesan penting bagi generasi Papua: tanah adalah identitas, harga diri, bahkan ibu yang memberi kehidupan,” ucapnya.
Baca juga: Festival Sastra Sorong Digelar Lagi, Wadah Asah Bakat Para Sastrawan Muda
Selain puisi, Fransina menulis buku cerita (monolog) tentang kehidupannya di kampung halaman.
Ia percaya bahwa perlawanan tidak harus selalu melalui demonstrasi, tetapi lebih efektif ditungkan ke dalam setiap karya sastra.
“Melalui syair puisi dan ceritanya, saya berharap dapat menyemangati pemuda-pemudi Papua lainnya agar terus berkarya lewat sastra,” pungkas dia. (tribunsorong.com/safwan ashari)