Rabu, 15 April 2026

Hutan Adat PBD

Masalah Amazon dan Papua Mirip: Ekspansi Bisnis dan Tambang Ancam Hutan

Delegasi pemuda adat Amazon Brasil, menyerukan perlindungan hutan dan masyarakat lokal, saat Forest Defender Camp di Kampung Sira.

Tayang:
Penulis: Safwan | Editor: Petrus Bolly Lamak
zoom-inlihat foto Masalah Amazon dan Papua Mirip: Ekspansi Bisnis dan Tambang Ancam Hutan
TRIBUNSORONG.COM/SAFWAN ASHARI
HUTAN ADAT -- Pembukaan Forest Defender Camp di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Selasa (23/9/2025).(tribunsorong.com/safwan) 

TRIBUNSORONG.COM, SORONG - Delegasi pemuda adat Amazon Brasil, menyerukan perlindungan hutan dan masyarakat lokal, saat Forest Defender Camp di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan.

Juru bicara Organisasi Adat Amazon Brasil, Nathalia (27) mengatakan, masalah yang dihadapi masyarakat adat di Papua mirip dengan yang dialami oleh warga global termasuk Amazon.

"Kita di Amazon mengalami masalah sama dengan Papua, yakni mulai ekspansi bisnis perkebunan, tambang dan deforestasi," ujar Nathalia kepada media, Rabu (24/9/2025).

Rata-rata, pelaku eksploitasi alam di hutan adat Papua dan Amazon yakni perusahaan besar, dan memiliki kekuatan uang banyak.

Menurutnya, acara seperti Forest Defender Camp 2025 ini justru penting dihadiri, sebab bagian dari pertemuan anak muda di Papua, membahas nasib tanah dan manusia adat.

"Saya harap anak muda dari tujuh wilayah adat bisa membentuk solidaritas sebagai garda terdepan jaga tanah adat," katanya.

Di Amazon dan Papua juga punya kesamaan, yakni menjadi ekosistem hutan hujan dan paru-paru dunia, serta rumah bagi jutaan biodiversitas yang juga terancam perusakan.

"Kita sama-sama punya hutan hujan tropis dan terancam rusak akibat ekspansi industri ekstraktif, kita harus berjuang agar bisa ikut mempertahankan tempat," jelasnya.

Disinggung Brasil sebagai tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) pada November mendatang, Nathalia menegaskan fokus utama yang akan disuarakan adalah zero deforestasi. 

"Satu-satunya cara melawan perubahan iklim adalah zero deforestasi. Bukan hanya di Brasil, tapi diusahakan kerja sama antarbenua untuk zero deforestasi," ucapnya. 

Terpisah, Ketua Dewan Perekutuan Masyarakat Adat (DPMA) Suku Knasaimos Fredik Sagisolo (56) menegaskan, hutan dan masyarakat adat satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

"Bicara tentang hutan dan tanah itu satu hal yang tak bisa kita lepas pisahkan, sehingga mau bilang kepentingan apapun itu sebagai anak adat di Papua jual keduanya," jelasnya. 

"Kita di mata Tuhan adalah pendatang dan orang asing, jangan kau rusak cipaannya."

Ia menegaskan, hutan dan tanah adalah satu benteng terakhir bagi masyarakat adat di seluruh daerah termasuk tanah Papua.

Fredik berharap, melalui Forest Defender Camp ini bisa melahirkan komitmen besar yang menyelamatkan hutan di tanah Papua. (tribunsorong.com/safwan ashari)

Sumber: TribunSorong
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved