Senin, 1 Juni 2026

Krisis Kesehatan PBD

Feliks Duwit Ungkap Krisis Kesehatan di Papua Barat Daya, Minta Regulasi Darurat Segera Diterbitkan

Ketua IDI Cabang Sorong, Feliks Duwit, mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menetapkan status darurat kesehatan.

Tayang:
Penulis: Taufik Nuhuyanan | Editor: Intan
zoom-inlihat foto Feliks Duwit Ungkap Krisis Kesehatan di Papua Barat Daya, Minta Regulasi Darurat Segera Diterbitkan
TribunSorong.com/Taufik Nuhuyanan
KRISIS KESEHATAN - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sorong, Feliks Duwit, mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk menetapkan status darurat kesehatan. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua IDI Cabang Sorong, Feliks Duwit, mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menetapkan status darurat kesehatan.
  • Usulan ini didasari atas kondisi lapangan yang mengkhawatirkan, seperti tingginya angka stunting serta fenomena double burden disease yang memicu tingginya angka kematian di wilayah tersebut.
  • Feliks mengkritisi sistem kesehatan daerah yang dinilai malfungsi.

TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sorong, Feliks Duwit, mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk menetapkan status darurat kesehatan sebagai langkah strategis dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan yang dinilai sudah berada pada kondisi mengkhawatirkan.

Usulan tersebut disampaikan Feliks berdasarkan fakta klinis, data lapangan, serta kondisi epidemiologis yang menunjukkan tingginya angka penyakit menular maupun tidak menular di Papua Barat Daya.

Menurutnya, penetapan status darurat kesehatan diperlukan agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah luar biasa atau extraordinary measures dalam menangani berbagai masalah kesehatan yang selama ini belum tertangani secara optimal.

"Kami sebagai organisasi profesi tidak bisa diam. Berdasarkan data klinis, data lapangan, dan data epidemiologis yang ada, kami menilai Papua Barat Daya sedang berada dalam kondisi darurat kesehatan. Karena itu kami mengusulkan agar pemerintah menetapkan status darurat kesehatan melalui kebijakan resmi," ujar Feliks di Kabupaten Sorong, Senin (1/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa Papua Barat Daya saat ini menghadapi fenomena double burden disease atau beban ganda penyakit, yakni tingginya angka penyakit menular yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya penyakit tidak menular.

Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Sorong: Temuan 1.003 Kasus TB Adalah Bukti Keberhasilan Program Skrining Aktif

Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Sorong Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa Gratis di Puskesmas

Untuk penyakit menular, Feliks menyebut kasus HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), malaria, dan kusta masih menjadi persoalan serius yang berdampak pada tingginya angka kesakitan dan kematian masyarakat.

Di sisi lain, penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kanker juga mengalami peningkatan yang signifikan.

"Kita menghadapi beban ganda. Penyakit menular masih tinggi, sementara penyakit tidak menular juga meningkat. Ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan kita," katanya.

Selain itu, Feliks juga menyoroti masih tingginya angka stunting yang dinilai sebagai ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Menurutnya, stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi juga dapat menjadi faktor risiko yang memicu berbagai penyakit di kemudian hari.

"Kalau masih ada stunting dan kekurangan gizi, berarti ada fondasi kehidupan yang belum kuat. Ini menjadi investasi buruk yang dapat memicu penyakit menular maupun penyakit tidak menular di masa depan," ucapnya.

Feliks juga menilai pola hidup masyarakat masih menjadi faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka penyakit. 

Ia menyebut sebagian masyarakat masih memiliki perilaku hidup yang rentan terhadap berbagai penyakit, baik menular maupun tidak menular.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak pada rendahnya angka harapan hidup masyarakat yang masih berada di bawah rata-rata nasional dan berpotensi mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Barat Daya.

Selain persoalan penyakit dan stunting, Feliks mengkritisi sistem layanan kesehatan yang menurutnya belum berjalan secara optimal.

Sumber: TribunSorong
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved