Kamis, 23 April 2026

Sumber Daya Manusia Sorong Selatan

Sorong Selatan Darurat Putus Sekolah: Harapan Kuliah, Tapi Rata-rata Cuma Tamat Kelas 2 SMP

Terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara Harapan Lama Sekolah (HLS) dan RLS penduduk di Kabupaten Sorong Selatan.

Tayang:
Penulis: Astri | Editor: Petrus Bolly Lamak
zoom-inlihat foto Sorong Selatan Darurat Putus Sekolah: Harapan Kuliah, Tapi Rata-rata Cuma Tamat Kelas 2 SMP
TribunSorong.com/Astri
PENDIDIKAN - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong Selatan Hengky Gogoba mengatakam rendahnya rata-rata lama sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kondisi sosial dan wilayah. 

Ringkasan Berita:
  • Terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk di Kabupaten Sorong Selatan.
  • BPS Kabupaten Sorong Selatan mencatat HLS pada tahun 2025 mencapai 13,32 tahun, sementara RLS baru berada di angka 8,06 tahun.
  • Data ini menggambarkan ekspektasi lama sekolah anak di Sorong Selatan, yakni mencapai jenjang Diploma 1 atau memasuki tahun kedua pendidikan tinggi.
  • Capaian pendidikan penduduk saat ini belum sejalan dengan harapan tersebut.

TRIBUNSORONG.COM, TEMINABUAN - Terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk di Kabupaten Sorong Selatan.

BPS Kabupaten Sorong Selatan mencatat HLS pada tahun 2025 mencapai 13,32 tahun, sementara RLS baru berada di angka 8,06 tahun.

Baca juga: Bupati Sorong Selatan Serahkan SK Plt untuk 2 Pejabat, Berikut Nama dan Jabatannya

Data ini menggambarkan ekspektasi lama sekolah anak di Sorong Selatan, yakni mencapai jenjang Diploma 1 atau memasuki tahun kedua pendidikan tinggi.

Capaian pendidikan penduduk saat ini belum sejalan dengan harapan tersebut.

Rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas hanya menamatkan pendidikan setara kelas 2 SMP. 

Baca juga: Bupati Sorong Selatan Serahkan 5 Mobil Pusling dan 4 Speedboat untuk Layanan Kesehatan

Capaian tersebut menunjukkan rata-rata penduduk belum menyelesaikan program Wajib Belajar 9 Tahun, apalagi Wajib Belajar 12 Tahun.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadispendikbud) Sorong Selatan Hengky Gogoba mengatakan, rendahnya rata-rata lama sekolah dipengaruhi berbagai faktor, terutama kondisi sosial dan geografis wilayah.

“Kalau kita lihat, ini kembali ke orang tua murid dan juga anak-anaknya. Tantangan paling besar itu ada di wilayah pinggiran, khususnya daerah pesisir seperti Kokoda dan Kokoda Utara,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan akses dan dukungan keluarga masih menjadi persoalan yang dihadapi dunia pendidikan di wilayah tersebut. 

Hal ini berdampak pada keberlanjutan sekolah anak, terutama saat memasuki jenjang yang lebih tinggi.

Baca juga: Sopir Ambulans di Sorong Selatan Ditemukan Tergantung, Kirim Foto Terakhir ke Istri yang Lagi Pergi

Staf Perencanaan Dispendikbud Stefen Frets Maromon menambahkan, angka HLS sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat dalam melanjutkan pendidikan.

“Yang dilihat itu angka melanjutkan sekolah, misalnya dari SD ke SMP, lalu SMP ke SMA. Faktor geografis juga sangat menentukan,” ujar Stefen.

Ia menjelaskan, di beberapa wilayah seperti Kokoda Utara, siswa harus pergi ke ibu kota kabupaten (Teminabuan) demi melanjutkan pendidikan ke SMA karena keterbatasan sekolah lanjutan di daerah asal.

Berdasarkan data dapodik, total ada 17 SMA/SMK yang tersebar di beberapa distrik. 

Baca juga: Gaji Ditahan hingga Masuk Kelas: Ultimatum Kadispendikbud Sorong Selatan untuk Guru Kokoda Utara

Sedangkan 6 distrik yaitu Sawiat, Fokour, Wayer, Kais Darat, Konda, dan Kokoda Utara, belum memiliki SMA/SMK.

Sumber: TribunSorong
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved