BBKSDA Papua Barat Bangun Kerjasama Pemda Raja Ampat Menjaga Hutan Lestari
BBKSDA Provinsi Papua Barat mempererat kerjasama sebagai mitra dalam dengan Pemerintah Raja Ampat Pentahelix model Kabupaten Raja Ampat.
Penulis: Willem Oscar Makatita | Editor: Rahman Hakim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sorong/foto/bank/originals/BBKSDA-Papua-Barat.jpg)
TRIBUNSORONG.COM, WAISAI - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua Barat mempererat kerjasama sebagai mitra dalam dengan Pemerintah Raja Ampat Pentahelix model Kabupaten Raja Ampat.
Kepala Bidang Konservasi SDA 1 Wilayah Sorong, Hastoto Alifianto, bersama Kepala SKW 1 Waisai, Partolongan Manalu dan Tanah Papua Program Manager, FFI-IP, Andhy P. Sayogo diterima hangat Asisten II, Wahab Sangaji di ruangannya, beberapa waktu lalu.
"Kunjungan ke Pemda Raja Ampat itu bagian dari silahturahmi mempererat hubungan kerja sama antara BKSDA Papua Barat sebagai mitera Pemda Raja Ampat," ujar Kepala Bidang Konservasi SDA 1 Wilayah Sorong, Hastoto Alifianto.
Baca juga: DPRK Maybrat Gelar Sosialisasi Kode Etik dan Tata Beracara dalam Dewan
Baca juga: Momen Anggota Polisi di Sorong Selatan Terlibat Aktif Program TNI Manunggal Membangun Desa
Baca juga: Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya Dukung Seismik 3D di Imeko Sorong Selatan
Baca juga: Kehadiran Provinsi Papua Barat Daya Bisa Jawab Masalah Pendidikan, Robert Kardinal: Persiapan Dasar
Dikatakannya, rencana implementasi program Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Kampung Penyangga Kawasan Konservasi (KOMPAK) merupakan gagasan Kepala BBKSDA Provinsi Papua Barat, Johny Santoso.
"Melalui program tersebut, diharapkan tetap menjaga Hutan lestari, dan masyarakat menjadi sejahtera serta pembangunan daerah berkelanjutan yang mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem," terangnya.
Asisten II Setda Kabupaten Raja Ampat, Wahab Sangaji, mengatakan bahwa terobosan-terobosan dan ide-ide yang implementatif memang dibutuhkan untuk bersama membangun Kabupaten Raja Ampat, sebagaimana konsep Pentahelix model yang telah diterapkan.
"Dimana jumlah kampung penyangga pada 9 kawasan konservasi di Kabupaten Raja Ampat adalah sekitar delapan puluh satu kampung penyangga kawasan konservasi, sehingga kebijakan-kebijakan yang digunakan haruslah Solutif, Adaptif dan Kolaboratif," terang Sangaji.
Dikatakannya, terlebih leading sector Raja Ampat, yakni pariwisata dan perikanan tentunya menjadi perhatian untuk kepentingan yang sama dalam pemberdayaan masyarakat kampung.
"Kedepan, komunikasi seperti ini harus terus dilakukan bersama seluruh stakeholder di Kabupaten Raja Ampat," tandas, Wahab Sangaji.
(Tribun Sorong.com/willem oscar makatita)