Minggu, 19 April 2026

Paus Leo XIV

Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV: Perang Adalah Kekalahan Peradaban

Kita dihadapkan dengan ancaman ahli-ahli undangan untuk mendengarkan dan bersatu.  

Tayang:
zoom-inlihat foto Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV: Perang Adalah Kekalahan Peradaban
ISTIMEWA
BERSALAMAN - Romo Markus Solo Kewuta SVD yang bertugas di Takhta Suci Vatikan bersalaman dengan Paus Leo XIV dalam suatu kesempatan setelah dinobatkan sebagai Paus ke-267 menggantikan Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025. 

TRIBUNSORONG.COM - Di tengah kecemasan dunia akan masa depan yang tidak menentu akibat peperangan, Paus Leo XIV bersama Gereja Katolik memanjatkan doa khusus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 11 April 2026. 

Romo Markus Solo Kewuta SVD (Padre Marco), pejabat Takhta Suci asal Indonesia, mengajak umat sedunia menyatu dalam doa dan merenungkan seruan Paus tersebut.

“Iman dan doa dapat memindahkan gunung. Mari menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini. Sebarkan ke semua orang dan ke berbagai tempat, agar dunia kita segera kembali kepada perdamaian dan kedamaian sejati. Perang adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama. Sekali lagi, silakan share. Terima kasih,” tutur Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci yang akrab disapa Padre Marco melalui kanal youtube PdM. Simak di sini: https://www.youtube.com/watch?v=EI-YS75Q-bs

Berikut transkrip Padre Marco atas Refleksi renungan Paus Leo XIV pada doa malam untuk perdamaian di  Basilika Santo Petrus Vatikan, Sabtu 11 April 2026.

Baca juga: Kisah Imam Indonesia Bahagia bak Terbang ke Langit Bisa Bertatap Muka dengan Paus Leo XIV

Saudara-saudari terkasih, doa Anda adalah ungkapan iman yang menurut perkataan Yesus dapat memindahkan gunung. Bandingkan Injil Matius pasal 17 ayat 20. Terima kasih telah menerima undangan ini untuk berkumpul di sini di makam Santo Petrus dan di begitu banyak tempat lain di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian.

Perang memecah belah, tetapi harapan mempersatukan. Kesombongan menginjak-injak orang lain tetapi kasih mengangkat. Penyembahan berhala membutakan kita, tetapi Allah yang hidup menerangi. 

Sahabat-sahabatku terkasih, yang dibutuhkan hanyalah sedikit iman, hanya remah iman untuk menghadapi saat-saat dramatis dalam sejarah ini secara bersama-sama sebagai umat manusia dan bersama umat manusia seluruh dunia. 

Doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab kita. Bukan pula obat bius untuk mematikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh begitu banyak ketidakadilan. Sebaliknya doa adalah tanggapan yang paling tanpa pamri universal dan transformatif terhadap kematian. 

Kita adalah umat yang telah bangkit di dalam diri kita masing-masing. Di dalam setiap manusia, guru spiritual kita mengajarkan perdamaian, mendorong kita menuju perjumpaan, dan menginspirasi kita untuk memohon.

Marilah kita bangkit dari reruntu Tuhan.

Tidak ada yang dapat membatasi kita pada takdir yang telah ditentukan bahkan di dunia ini di mana tampaknya tidak pernah ada cukup kuburan karena orang terus menyalibkan satu sama lain dan melenyapkan kehidupan tanpa memperhatikan keadilan dan belas kasihan. 

Baca juga: Kebaya Menari Dapat Undangan ke Vatikan Italia, Pentas di Hadapan Paus Leo XIV

Dalam konteks krisis perang Irak tahun 2003, Santo Yohanes Paulus, seorang pembela perdamaian yang tak kena lelah berkata dengan penuh keprihatinan, demikian, "Saya termasuk generasi yang hidup melalui perang dunia kedua dan syukur kepada Tuhan selamat dari perang ini. Saya memiliki kewajiban untuk mengatakan kepada semua generasi muda, kepada mereka yang lebih muda dari saya yang belum mengalami pengalaman peperangan ini, tidak ada lagi perang. Seperti yang dikatakan Paus Paulus ke-6 selama kunjungan pertamanya ke perserikatan bangsa-bangsa.

Kita harus melakukan segala yang mungkin. Kita tahu betul bahwa perdamaian tidak mungkin dicapai dengan harga berapun. Tetapi kita semua tahu betapa besar tanggung jawab ini. 

Doa Angelus Paus Yohanes Paulus 16 Maret 2003.

Malam ini kata Paus Leo, saya menjadikan seruan Paus Yohanes Paulus ke-2  ini sebagai seruan saya juga karena relevansinya sangat terasa hingga saat ini. Doa mengajarkan kita bagaimana bertindak. 

Sumber: TribunSorong
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved