Praktik Moderasi Beragama
Momen Keakraban KH Suyuti Toha dan Romo Fadjar dalam Moderasi Beragama
Moderasi beragama tidak cukup hanya pengetahuan dan teori saja. Prinsip ini harus sampai pada praktik dan pengalaman di lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sorong/foto/bank/originals/20260616_kasada.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pertemuan antara KH Fathulloh Suyuti Toha dan Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno menjadi simbol nyata moderasi beragama.
- Tradisi menggendong dan makan bersama di dekat dapur menunjukkan kedalaman persaudaraan lintas iman selama 25 tahun.
- Kunjungan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh dari Lemhannas RI dan berbagai pegiat kebangsaan di Banyuwangi.
TRBUNSORONG.COM - Moderasi beragama tidak cukup hanya pengetahuan dan teori saja. Prinsip ini harus sampai pada praktik dan pengalaman di lapangan.
Moderasi beragama bukan merupakan kegiatan tak kasat mata.
Justru upaya ini sangat terukur.
Bentuknya, saling bersilaturahmi antarsesama umat tanpa batas ataupun sekat.
Dan moderasi beragama merupakan perjalanan panjang yang akan mengalami kepenuhan pada saat bertemu di meja makan.
Baca juga: Potret Toleransi di Papua Barat Daya: Umat Non-Muslim Ramaikan Malam Takbiran di Sorong Selatan
Hal ini sangat nampak saat Ulama Kharismatik KH Fathulloh Suyuti Toha pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi bertemu Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr, Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo pada Minggu malam (14/06/2026) di kediamannya di pondok.
Kehadiran Rm Fadjar di ponpes tersebut untuk mengantarkan AM Putut Prabantoro, alumnus PPSA XXI Lemhannas RI dan pengajar ideologi.
Kunjungan ini merupakan balasan dari pertemuan dua pekan lalu. Pada 30 Mei 2026, rombongan KH Suyuti Toha sebagai pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon berkunjung ke kediaman Putut Prabantoro di Yogyakarta.
Dalam kunjungan kejutan tersebut, rombongan KH Suyuti Toha dipimpin oleh Dewan Pembina Majelis Nurul Wathon Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputera.
Pertemuan pertama kali antara Putut Prabantoro dan KH Suyuti Toha di Yogya ini ternyata menjadi cikal bakal pertemuan di Banyuwangi itu.
Baca juga: Wujud Toleransi di Teminabuan: Panti Asuhan Muhammadiyah Tampung Anak Lintas Agama
Karena antara KH Suyuti Toha dan Putut Prabantoro memiliki simpul yang sama yakni Rm Fadjar Tedjo Soekarno.
Oleh karena itu, bagi Putut yang juga pendiri dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), pertemuan Banyuwangi ini sangat penting.
Pertemuan tersebut menindaklanjuti pesan pertemuan pertama di samping merupakan ajang reuni kedua tokoh dan silaturahmi dari yang muda ke tua.
Dalam kunjungan ke Banyuwangi itu, Rm Fadjar didampingi Lambertus Widiantoro dari Yogyakarta, Wartawan Lucius Gora Kunjana dari Jakarta, dan Samudra Hasni Shodiq dari Surabaya.
Baca juga: Wujud Toleransi di Teminabuan: Panti Asuhan Muhammadiyah Tampung Anak Lintas Agama
Pertemuan di Ponpes Mansyaul Huda itu juga dihadiri Sandi Suwardi Hasan (Dirut LAZ, Lembaga Amil Zakat Nasional), pegiat kebangsaan dari Banyuwangi Syaiful Rizal serta Heribertus Wicaksono, Topan Adinata, Andika Ronggo Gumuruh, Hasanan, Arif Subhan dari Universitas PGRI Banyuwangi, dan Suyanto, Wartawan SelendangSutera Banyuwangi.
| 6 Siswa Terbaik Papua Barat Daya Ikuti Seleksi Paskibraka Nasional 2026 |
|
|---|
| Polres Maybrat Musnahkan 1,4 Kilogram Ganja, Hasil Komitmen Berantas Narkoba di Papua Barat Daya |
|
|---|
| Kantor Imigrasi Sorong Paparkan Hasil Inovasi Peserta Program MagangHub |
|
|---|
| Tradisi Jalan Santai dan Bazar Amal Meriahkan Tahun Baru Islam di Sorong |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Papua Barat Daya Selasa 16 Juni 2026 : Kabupaten Sorong Hujan, Raja Ampat Berawan |
|
|---|