Kamis, 16 April 2026

Keuskupan Timika

Uskup Timika: Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia, Bukan Sekadar Cetak Pekerja

Uskup Timika menyoroti pergeseran nilai pendidikan yang condong melayani kepentingan pasar kerja dibandingkan memanusiakan manusia. 

Tayang:
zoom-inlihat foto Uskup Timika: Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia, Bukan Sekadar Cetak Pekerja
Istimewa
USKUP - Uskup Timika Mgr Bernadus Bofitwos Baru OSA menyoroti pergeseran nilai pendidikan yang kini lebih condong melayani kepentingan pasar kerja dibandingkan memanusiakan manusia. 

TRIBUNSORONG.COM - Uskup Timika Mgr Bernadus Bofitwos Baru OSA menyoroti pergeseran nilai pendidikan yang kini lebih condong melayani kepentingan pasar kerja dibandingkan memanusiakan manusia. 

Hal ini disampaikannya saat membuka Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah Keuskupan Timika di Hotel Swiss-Belinn, Timika (14-16 April 2026).

Baca juga: Uskup Timika Pulang Kampung dan Misa Syukur, Ini 3 Pesan Mgr Bernardus Bofitwos Baru

Uskup Bernard menegaskan bahwa musuh utama pendidikan saat ini adalah ideologi ekonomi yang hanya berorientasi pada materi dan keuntungan. 

"Pendidikan cenderung mencetak manusia sebagai pekerja demi keuntungan ekonomi, sehingga nilai-nilai luhur dan pembentukan karakter mulai terkikis," ungkapnya.

Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Saat ini, institusi pendidikan dinilai terlalu mengagungkan kemampuan intelektual sempit melalui metode menghafal, bukan analisis mendalam. 

Baca juga: Uskup Timika Pimpin Ibadah HUT ke-50 Sekda Maybrat Ferdinandus Taa

Selain itu, gaya hidup konsumtif, hedonisme, dan materialisme yang berpadu dengan kepentingan politik dikhawatirkan dapat membunuh kreativitas anak didik.

Tantangan di Papua Tengah 

Khusus di Papua Tengah, tantangan pendidikan terasa berlapis. 

Mulai dari rendahnya kualitas dan jumlah guru, manajemen yayasan yang belum maksimal, hingga kurangnya dukungan orang tua dan pengaruh lingkungan sosial yang merusak mentalitas siswa.

Uskup juga menyoroti kondisi darurat di wilayah konflik seperti Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai. 

Baca juga: Umat 7 Lingkungan Paroki Santo Yoseph Ayawasi Maybrat Kerja Bakti jelang Misa Syukur Uskup Timika

Konflik bersenjata telah menyebabkan ribuan anak kehilangan hak belajar. 

"Gereja, pemerintah, dan masyarakat terancam kehilangan satu generasi (lost generation) karena mereka tidak bisa mengenyam pendidikan bermutu," tegas Mgr Bernard. 

Persoalan serupa terjadi di wilayah pesisir seperti Kamoro, di mana akses pendidikan masih sangat minim.

Langkah Terobosan 

Menyikapi krisis tersebut, lokakarya bertema “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis” digelar sebagai ruang evaluasi. 

Kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi nyata di lapangan melalui analisis SWOT serta merumuskan peta jalan (roadmap) penguatan sekolah-sekolah Katolik.

Baca juga: Begini Harapan Besar Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa kepada Uskup Timika

Acara ini dihadiri oleh 120 peserta luring, termasuk pastor paroki, pengurus YPPK Tillemans, pimpinan tarekat, dan mitra lembaga. 

Uskup mengajak seluruh elemen pemerintah, Gereja, pihak swasta seperti PT Freeport Indonesia, hingga orang tua untuk berkolaborasi melakukan langkah darurat guna memulihkan "roh" pendidikan yang memerdekakan dan berpihak pada martabat manusia. (*)

Sumber: TribunSorong
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved