Jumat, 12 Juni 2026

Hikmah Ramadan 2025

Merawat Kemabruran Puasa bagian 30-habis: Dari Religiousness dan Religious Mindedness

Religiousness ketika seseorang merasa dirangkul oleh agamanya yang mana keseluruhan pandangan hidup dan perilakunya didominasi ajaran formal agama.

Tayang:
Editor: Jariyanto
zoom-inlihat foto Merawat Kemabruran Puasa bagian 30-habis: Dari Religiousness dan Religious Mindedness
FREEPIK
MASJID - Ilustrasi masjid yang merupakan tempat ibadah umat beragama Islam. Religious minded ketika seseorang merasa merangkul agamanya. Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke manapun ia pergi selalu bersamanya, namun ia tidak merangkul dirinya melainkan dirinya yang menggenggam agama itu. 

Oleh: Prof., Dr., K.H. Nasaruddin Umar, M.A. (Menteri Agama RI)

TRIBUNSORONG.COM - Religiousness ketika seseorang merasa dirangkul oleh agamanya yang mana keseluruhan pandangan hidup dan perilakunya didominasi ajaran formal agama.

Seolah-olah ruang, waktu, dan dirinya merupakan satu kesatuan kental dengan ajaran agama, sementara di nun jauh di sana (transcendent) ada Tuhan beserta para malaikat mengawasinya secara ketat.

Ruang dan jendela untuk mengintip dunia nyata  sangat terbatas karena dikelilingi dan dipenuhi oleh spektrum ajaran agama.

Baca juga: Merawat Toleransi di Papua Barat Daya, Komisi Kateketik Keuskupan Manokwari-Sorong Bersihkan Masjid

Di sekitarnya seolah dekelilingi daerah terlarang sehingga dinamika dan kebebasan berekspresi menjadi kaku karena terlalu banyak rambu-rambu yang berdiri tegak.

Kreativitas dan inisiatifnya sebagai khalifah ditenggelamkan oleh kapasitas dirinya sebagai abid (hamba).

Religious minded ketika seseorang merasa merangkul agamanya.

Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke manapun ia pergi selalu bersamanya, namun ia tidak merangkul dirinya melainkan dirinya yang menggenggam agama itu.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa bagian 29: Dari Salam, Islam, dan ke Istislam

Dampaknya, orang akan merasa lebih merdeka dan memiliki hamparan luas dan longgar untuk berekspresi dan berkreasi.

Rambu-rambu pembatas itu tidak berdiri tegak di luar dirinya tetapi melekat di dalam dirinya, sehingga pandangannya luas tanpa terpantul oleh papan-papan perboden keagamaan.

Hidup dan kehidupannya lebih dinamis karena merasa diberikan kebebasan penuh dari ajaran agamanya sendiri.

Pada prinsipnya segala sesuatu boleh selain yang secara khusus dilarang, sehingga jumlah larangan itu amat sedikit.

 

Ia merasa  lebih merdeka sebagai khalifah karena sikap perhambaan dirinya kepada Tuhan tidak menghalanginya untuk berkreasi dan berinisiatif.

Suasana batin religious ness cenderung lebih tertutup dan sesekali mendekati garis keras karena ia memandang hidup ini hitam dan putih.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved