Layanan Publik

Aplikasi SIMACE Diaktifkan Lagi, Warga Papua Barat Daya Lebih Cepat Lapor Bencana lewat Gawai

Dalam waktu dekat, lanjut Josua, DKP2B akan menggencarkan sosialisasi SIMACE ke masyarakat luas, termasuk melibatkan media, dunia usaha.

|
Penulis: Taufik Nuhuyanan | Editor: Jariyanto
TRIBUNSORONG.COM/TAUFIK NUHUYANAN
PENGAKTIFAN APLIKASI SIMACE - Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Dinas Kebakaran, Penyelamatan, Penanggulangan Bencana, dan Satuan Polisi Pamong Praja (DKP2B dan Satpol PP) Papua Barat Daya Josua Homer di Kota Sorong, Selasa (8/7/2025). Ia mengatakan, pihaknya akan mengaktifkan lagi Sistem Informasi dan Aplikasi Bencana (SIMACE). 

TRIBUNSORONG.COM, SORONG - Dinas Kebakaran, Penyelamatan, Penanggulangan Bencana, dan Satuan Polisi Pamong Praja (DKP2B dan Satpol PP) Papua Barat Daya akan mengaktifkan lagi Sistem Informasi dan Aplikasi Bencana (SIMACE).

SIMACE merupakan platform pelaporan bencana secara real time oleh masyarakat buat mempermudah pelaporan kejadian seperti kebakaran, banjir, dan bencana lainnya melalui gawai.

“Aplikasi ini bisa diunduh lewat Playstore dan akan memudahkan masyarakat untuk melaporkan insiden secara langsung dari ponsel mereka,” ujar Kepala Bidang Penanggulangan Bencana DKP2B dan Satpol PP Josua Homer, Selasa (8/7/2025).

Baca juga: SAR Goes to School, Anak-Anak Sorong Antusias Belajar Evakuasi Bencana

Dalam waktu dekat, lanjut Josua, DKP2B akan menggencarkan sosialisasi SIMACE ke masyarakat luas, termasuk melibatkan media, dunia usaha, sekolah, dan kampus.

“Kami ingin semua elemen masyarakat bisa menggunakan SIMACE. Aplikasi ini mudah diakses dan bahkan dapat memberikan notifikasi jika pengguna berada di radius area rawan bencana,” katanya.

Baca juga: Pemprov Papua Barat Daya Dukung Penuh Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana

Josua menegaskan, pengaktifan kembali SIMACE menjadi bagian dari strategi penguatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana berbasis teknologi informasi yang inklusif dan cepat.

Harapannya aplikasi ini menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi situasi bencana, dari laporan awal hingga respons cepat di lapangan.

Josua menyebut, implementasi SIMACE sempat terhambat akibat keterbatasan personel.

Tahun ini ada tambahan 108 CPNS sehingga memperkuat tim siaga bencana yang siap bertugas 24 jam selama tujuh hari.

Pascapelatihan internal, DKP2B akan menindaklanjuti dengan menghimpun mitra kebencanaan dari berbagai sektor melalui kolaborasi model pentahelix, melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan pemerintah.

“Kami akan siapkan kerangka pembentukan tim respons multisektor. Bencana ini tidak bisa ditangani satu instansi saja. Rencananya akan kita format dalam diskusi terbuka seperti coffee morning bersama stakeholder,” ucap Josua.

Baca juga: Apel Gelar Pasukan PRCPB Papua Barat Daya 2025, Danrem Tekankan Kesiapsiagaan Bencana

Tim respons ini akan bersifat ad hoc, diaktifkan saat terjadi insiden dengan koordinasi terpusat di bawah DKP2B sebagai leading sector. 

Josua berharap, semua elemen dapat bersinergi untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana di Papua Barat Daya.

Baca juga: 2 Aplikasi Ini Bantu Warga Papua Barat Daya Hadapi Bencana

Josua juga menekankan perlunya peningkatan status bidang penanggulangan bencana menjadi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar koordinasi dan penanganan bencana menjadi lebih optimal.

“Saat ini kami hanya sebagai bidang dengan keterbatasan personel dan peralatan, padahal Papua Barat Daya termasuk daerah rawan bencana. Perlu segera dimekarkan menjadi badan agar fungsi kerja dan koordinasi lebih optimal,” katanya. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)

Sumber: TribunSorong
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved