Cerpen
Catatan Daun, Pesan Ibu di Sungai Merah
Kubawa sesaji berisi kembang tujuh rupa, harum bau bunga kantil menyengat hidungku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sorong/foto/bank/originals/20250816_ilustrasi-sungai.jpg)
Lamunanku terasa makin jauh, rindu menyesak di dadaku, aku berusaha menghilangkan semua rasa kangenku pada ayahku, sabit yang ku bawa begitu tajam memotong rumput.
Pakan kambing, cukup tersedia di ladang ayahku, sebab lokasi ladang tak jauh dari permukiman desa dan juga dekat dengan kebun durian peninggalan kakekku.
Waktu beranjak sore, pakan rumput yang kukumpulkan sudah banyak.
Baca juga: Rute dan Tarif Menuju Tempat Wisata Pasir Putih Yerusel Sorong Papua Barat Daya
Waktunya aku pulang ke rumah untuk memberi pakan dua kambing dan dua anaknya.
Azan Magrib terdengar dari surau desaku, ibuku tak pernah sekalipun lalai menjalankan ibadahnya.
Suara air bergemericik di belakang rumah dekat kolam air, akupun beranjak salat Magrib.
Malam bergeser, usai salat kuberanikan diri menanyakan ibuku soal besek yang sering diletakkan di Air Terjun Mengkaring.
Apa tujuannya, padahal ayahku adalah tetua desa yang saran dan petuahnya selalu didengar warga.
”Besek yang setiap purnama ibu kirim ke air terjun, apakah ada dampaknya terhadap kehidupan keluarga kita Bu,” kataku penuh penasaran.
”Sesaji yang sering ibu minta antar ke air terjun, bukanlah salah satu kewajiban pada keluarga kita nak, sebab Air Terjun Mengkaring tidak boleh diagungkan, apalagi hanya benda mati,” ucap ibuku.
”Tapi perlakuan kita memberi sesaji, sejatinya hanyalah untuk menjaga dan melestarikan, agar air terjun tidak dirusak oleh orang lain. Harapan ayah dan ibu dengan kita meletakkan sesaji maka orang yang berkunjung dan menikmati alam di sana, sedikit menjadi takut untuk merusak sebab ada sesaji yang diletakkan di sana,” ujar ibuku sambil membetulkan posisi duduknya.
”Jika kita tidak bisa melarang agar orang tidak merusak, setidaknya dengan adanya sesaji maka mereka menjadi sedikit takut dan tidak berbuat macam macam di sana, dan akhirnya lokasi itu tetap asri dan terus terjaga dengan sendirinya,“ ujar ibuku penuh makna.
Rasa penasaran yang mengganjal di dadaku, sedikit mulai terbuka, dan aku juga masih penasaran dengan cerita Sungai Merah.
Dari cerita turun temurun dan pernah terjadi pertempuran bujang seratus gadis seratus, rasa ingin tahuku makin menyeruak.
Sebenarnya ada misteri apa yang di simpan oleh para tetua desaku, sehingga sampai saat ini tidak ada satu orangpun yang berani menuba ikan di sana bahkan sekedar memindahkan batu fosil sedikit saja.
| Lomba Baris-Berbaris Mata Tertutup: Cara Unik DPR Kota Sorong Perkuat Solidaritas Sambut HUT 80 RI |
|
|---|
| Mulai 2026 Wali Kota Sorong Wajibkan Dokter Kerja 24 Jam di RS, Pemkot Siapkan Insentif "Sultan" |
|
|---|
| Ramalan Zodiak Keuangan Hari Ini Sabtu 16 Agustus 2025 : Cancer Investasi, Aquarius Kesulitan |
|
|---|
| Tren Kuliner Kekinian Hadir di Papua Barat Daya, dari Dapur Rumahan Hingga Mal |
|
|---|