Cerpen
Catatan Daun, Pesan Ibu di Sungai Merah
Kubawa sesaji berisi kembang tujuh rupa, harum bau bunga kantil menyengat hidungku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sorong/foto/bank/originals/20250816_ilustrasi-sungai.jpg)
Tonjolan batu batu besar yang menyerupai pohon tua, tak sedikit membuatku bisa menghilangkan rasa ketakutan pada diriku.
Kicau burung makin sering terdengar dan membuatku sedikit nyaman, apalagi angin sepoi-sepoi begitu lembut, sehingga membuat diriku makin mantap terus melangkah ke dekat air terjun.
Entah sudah berapa kali aku harus berulang kali , namun keindahan alam dan kerasnya deburan aliran Sungai Merah, serta beberapa fosil yang terjaga belum pernah berubah, dan tetap masih pada posisinya, bahkan pepohonan makin besar besar di sepajang aliran Sungai Merah.
Ya, ini kesekian kalinya aku mengantar sesaji di dekat Air Terjun Mengkaring, yang menurutku begitu indah dan banyak didatangi orang.
Suasana alamnya masih asri, dan tidak ada tangan tangan jahil yang merusak alam di sekitar air terjun, apalagi dengan legenda yang ditinggalkan di air terjun mengkaring menjadi cerita turun temurun bagi warga desaku.
Begitu juga dengan cerita cerita mengenai sungai merah yang di kelilingi pohon pohon yang membatu, daun pakis yang membatu,kerang dan juga banyak binatang lain yang sudah membatu, sehingga cerita turun temurun soal desanya yang dulunya adalah lautan bisa menjadi cerita sendiri bagiku.
Energi seperti akan pernah habis, meskipun di atas kepalaku aku bawa besek penuh bunga, aku bawa ke satu tempat yang biasanya diletakkan besek penuh bunga, sebagian bekas beseknya mulai rapuh, tetapi masih menyisakan bekas bekasnya begitu jelas.
Baca juga: Sinergi Pemkot dan Pemprov Papua Barat Daya, Atasi Banjir Lewat Normalisasi Sungai
Rasa lelah setelah meletakkan cukup hati-hati, kuletakkan di atas batu yang airnya mengalir lebih sedikit, sehingga besek berisi sesaji masih bisa aman untuk beberapa hari.
Usai sudah tugas mengantarkan sesaji di air terjun mengkaring, kini waktunya aku mengerjakan tugas mencari rumput untuk kambing peliharaan peninggalan ayahku.
Setelah tugas dari ibuku selesai aku tunaikan, aku masih memiliki tugas untuk mencarikan rumput untuk kambing peliharaanku.
Dua ekor kambing besar dengan sepasang anaknya, menjadi tangung jawabku mencarikan rumput di dekat ladang milik almarhum ayahku.
Ini tahun ketiga bagiku dan ibuku, ditinggalkan ayah menghadap ilahi, namun kami tidak mau larut dengan kesedihan terus menerus, sehingga ibuku yang sudah tua tidak begitu sedih memikirkan kepergian ayahku, apalagi aku sendiri sudah beranjak dewasa.
Kadang di saat aku mencari rumput, sering kali aku termenung mengingat bagaimana perjuangan ayah, merawatku dan menjaga ibu.
Baca juga: Juara Nasional ADWI, Kampung Malasigi Sorong Minta Pemerintah Serius Bangun Infrastruktur Wisata
Betapa rindunya hatiku pada sosok ayah yang tak pernah tergantikan posisinya untuk kehidupan ku, kadang rasa cengeng menghampiri ku lewat air mataku.
"Ayah betapa rindu paling berat yang aku rasakan saat ini, hanyalah bisa bertemu ayah. Rindu yang pernah engkau tanamkan di hatiku tak bisa terlupakan meski sesaat saja ayah," ucapku.
| Lomba Baris-Berbaris Mata Tertutup: Cara Unik DPR Kota Sorong Perkuat Solidaritas Sambut HUT 80 RI |
|
|---|
| Mulai 2026 Wali Kota Sorong Wajibkan Dokter Kerja 24 Jam di RS, Pemkot Siapkan Insentif "Sultan" |
|
|---|
| Ramalan Zodiak Keuangan Hari Ini Sabtu 16 Agustus 2025 : Cancer Investasi, Aquarius Kesulitan |
|
|---|
| Tren Kuliner Kekinian Hadir di Papua Barat Daya, dari Dapur Rumahan Hingga Mal |
|
|---|