Cerpen

Catatan Daun, Pesan Ibu di Sungai Merah

Kubawa sesaji berisi kembang tujuh rupa, harum bau bunga kantil menyengat hidungku.

Editor: Jariyanto
DOK. YANTO BULE
SUNGAI - Panorama sungai dikelilingi rimbunnya pepohonan menambah suasana asri. Orang-orang tua berpesan agar menjaga alam dari kerusakan. 

TRIBUNSORONG.COM - Angin pagi, begitu sejuk menerobos sela-sela dinding rumah tatkala ibuku menyiapkan sesaji berupa kembang tujuh rupa  yang diletakkan dalam besek (wadah terbuat dari anyaman bambu).

Kegiatan menyiapkan sesaji sudah dilakoni ibuku semenjak lama, bahkan sudah turun temurun dari nenekku dulu.

Entah apa maksud dari sesaji berupa kembang tujuh rupa yang hampir setiap bulan pasti dilakukan, padahal ayah dan ibuku orang yang taat beragama juga ditokohkan dalam masyarakat.

"Nak bawa in. Larung ke sungai, sebab purnama ke kita belum melarung sesaji ke sungai merah itu,” ujar ibuku.

"Baik Bu, ini diletakkan di tempat biasa itu kan, Bu,"ujarku.

Baca juga: "Puncak Jerwok" Surga Sunrise Baru di Tanah 1001 Sungai Sorong Selatan

Kubawa sesaji berisi kembang tujuh rupa, harum bau bunga kantil menyengat hidungku.

Jalanan terjal berbatu ku tempuh dengan sangat hati hati, apalagi suara deras air sungai merah, membuat nyaliku sedikit takut, apalagi suara binatang seperti tongeret nyaring terdengar dari tepi sungai.

Suara binatang kecil, khas hutan dan suara burung bersahutan dari balik pepohononan.

Mataku tetap fokus  untuk berjalan di jalan setapak penuh berbatu, sesekali kakiku berjingkat menghindari genangan air yang menggenang di jalan yang kutempuh.

Perlahan namun pasti, aku menyusuri pinggiran sungai merah dengan cukup hati hati.

Baca juga: Air Terjun Sevese Sorong Selatan, Fasilitas Wisata Kian Lengkap yang Memanjakan Pengunjung

Sesekali tanganku berpegangan pada sisi dinding batu sungai, sambil menjaga keseimbangan tubuhku agar aku tidak tergelincir dan langsung terjun ke Sungai Merah, yang menurut cerita ibuku pernah ada pertarungan antara bujang seratus dan gadis seratus.

Dari cerita ibuku, bujang seratus dan gadis seratus yang bertarung di lokasi sepajang sungai merah.

Pertaruangan hanya untuk memperebutkan wilayah yang di kenal dengan sumber daya alamnya, namun dengan kegigihan dan keperkasaan prajurit gadis seratus, mampu menghalau musuh yang juga prajurit bujang seratus dari kerjaan melayu.

Pikiran-pikiran takut dan juga membayangkan cerita ibuku, semakin membuat aku takut untuk sekadar menoleh ke belakang, tapi dengan membawa sesaji yang dipesankan ibuku untuk menaruh di dekat air terjun mengkaring, membuat aku sedikit menimbulkan keberanian di dadaku.

Baca juga: Hutan Adat Moi Tergerus Sawit: Sungai Hitam, Satwa Mati, Harapan Pupus

Dengan sugesti yang pernah diucapkan nenekku dahulu, jika kamu berjalan ke rimba untuk menghilangkan rasa takut, maka ibu jarimu gengamlah, maka keberanian lelakimu akan muncul.

Tonjolan batu batu besar yang menyerupai pohon tua, tak sedikit membuatku bisa menghilangkan rasa ketakutan pada diriku.

Kicau burung makin sering terdengar dan membuatku sedikit nyaman, apalagi angin sepoi-sepoi begitu lembut, sehingga membuat diriku makin mantap terus melangkah ke dekat air terjun.

Entah sudah berapa kali aku harus berulang kali , namun keindahan alam dan kerasnya deburan aliran Sungai Merah, serta beberapa fosil yang terjaga belum pernah berubah, dan tetap masih pada posisinya, bahkan pepohonan makin besar besar di sepajang aliran Sungai Merah.

Ya, ini kesekian kalinya aku mengantar sesaji di dekat Air Terjun Mengkaring, yang menurutku begitu indah dan banyak didatangi orang.

Suasana alamnya masih asri, dan tidak ada tangan tangan jahil yang merusak alam di sekitar air terjun, apalagi dengan legenda yang ditinggalkan di air terjun mengkaring menjadi cerita turun temurun bagi warga desaku.

Begitu juga dengan cerita cerita mengenai sungai merah yang di kelilingi pohon pohon yang membatu, daun pakis yang membatu,kerang dan juga banyak binatang lain yang sudah membatu, sehingga cerita turun temurun soal desanya yang dulunya adalah lautan bisa menjadi cerita sendiri bagiku.

Energi seperti  akan pernah habis, meskipun di atas kepalaku aku bawa besek penuh bunga, aku bawa ke satu tempat yang biasanya diletakkan besek penuh bunga, sebagian bekas beseknya mulai rapuh, tetapi masih menyisakan bekas bekasnya begitu jelas.

Baca juga: Sinergi Pemkot dan Pemprov Papua Barat Daya, Atasi Banjir Lewat Normalisasi Sungai 

Rasa lelah setelah meletakkan cukup hati-hati, kuletakkan di atas batu yang airnya mengalir lebih sedikit, sehingga besek berisi sesaji masih bisa aman untuk beberapa hari.

Usai sudah tugas mengantarkan sesaji di air terjun mengkaring, kini waktunya aku mengerjakan tugas mencari rumput untuk kambing peliharaan peninggalan ayahku.

Setelah tugas dari ibuku selesai aku tunaikan, aku masih memiliki tugas untuk mencarikan rumput untuk kambing peliharaanku.

Dua ekor kambing besar dengan sepasang anaknya, menjadi tangung jawabku mencarikan rumput di dekat ladang milik almarhum ayahku.

Ini tahun ketiga bagiku dan ibuku, ditinggalkan ayah menghadap ilahi, namun kami tidak mau larut dengan kesedihan terus menerus, sehingga ibuku yang sudah tua tidak begitu sedih memikirkan kepergian ayahku, apalagi aku sendiri sudah beranjak dewasa.

Kadang di saat aku mencari rumput, sering kali aku termenung mengingat bagaimana perjuangan ayah, merawatku dan menjaga ibu.

Baca juga: Juara Nasional ADWI, Kampung Malasigi Sorong Minta Pemerintah Serius Bangun Infrastruktur Wisata

Betapa rindunya hatiku pada sosok ayah yang tak pernah tergantikan posisinya untuk kehidupan ku, kadang rasa cengeng menghampiri ku lewat air mataku.

"Ayah betapa rindu paling berat yang aku rasakan saat ini, hanyalah bisa bertemu ayah. Rindu yang pernah engkau tanamkan di hatiku tak bisa terlupakan meski sesaat saja ayah," ucapku.

Lamunanku terasa makin jauh, rindu menyesak di dadaku, aku berusaha menghilangkan semua rasa kangenku pada ayahku, sabit yang ku bawa begitu tajam memotong rumput.

Pakan kambing, cukup tersedia di ladang ayahku, sebab lokasi ladang tak jauh dari permukiman desa dan juga dekat dengan kebun durian peninggalan kakekku.

Waktu beranjak sore, pakan rumput yang kukumpulkan sudah banyak.

Baca juga: Rute dan Tarif Menuju Tempat Wisata Pasir Putih Yerusel Sorong Papua Barat Daya

Waktunya aku pulang ke rumah untuk memberi pakan dua kambing dan dua anaknya.

Azan Magrib terdengar dari surau desaku, ibuku tak pernah sekalipun lalai menjalankan ibadahnya.

Suara air bergemericik di belakang rumah dekat kolam air, akupun beranjak salat Magrib.

Malam bergeser, usai salat kuberanikan diri menanyakan ibuku soal besek yang sering diletakkan di Air Terjun Mengkaring.

Apa tujuannya, padahal ayahku adalah tetua desa yang saran dan petuahnya selalu didengar warga.

”Besek yang setiap purnama ibu kirim ke air terjun, apakah ada dampaknya terhadap kehidupan keluarga kita Bu,” kataku penuh penasaran.

”Sesaji yang sering ibu minta antar ke air terjun, bukanlah salah satu kewajiban pada keluarga kita nak, sebab Air Terjun Mengkaring tidak boleh diagungkan, apalagi hanya benda mati,” ucap ibuku.

”Tapi perlakuan kita memberi sesaji, sejatinya hanyalah untuk menjaga dan melestarikan, agar air terjun tidak dirusak oleh orang lain. Harapan ayah dan ibu dengan kita meletakkan sesaji maka orang yang berkunjung dan menikmati alam di sana, sedikit menjadi takut untuk merusak sebab ada sesaji yang diletakkan di sana,” ujar ibuku sambil membetulkan posisi duduknya.

”Jika kita tidak bisa melarang agar orang tidak merusak, setidaknya dengan adanya sesaji maka mereka menjadi sedikit takut dan tidak berbuat macam macam di sana, dan akhirnya lokasi itu tetap asri dan terus terjaga dengan sendirinya,“ ujar ibuku penuh makna.

Rasa penasaran yang mengganjal di dadaku, sedikit mulai terbuka, dan aku juga masih penasaran dengan cerita Sungai Merah.

Dari cerita turun temurun dan pernah terjadi pertempuran bujang seratus gadis seratus, rasa ingin tahuku makin menyeruak.

Sebenarnya ada misteri apa yang di simpan oleh para tetua desaku, sehingga sampai saat ini tidak ada satu orangpun yang berani menuba ikan di sana bahkan sekedar memindahkan batu fosil sedikit saja.

"Itulah nak, bujang seratus dan gadis seratus mereka sebenarnya tidaklah bertempur, tetapi dahulunya ada tradisi nenek moyang kita, bahwa bergotong royong membersihkan sungai dan merawat desa setiap tahunnya di laksanakan, sehingga tidak ada warga yang berniat merusak alam termasuk hewan air yang hidup di sungai merah ini,” kata ibuku.

"Apalah yang bisa ditinggalkan para leluhur kita, jika mereka tidak menceritakan bahwa ada pertempuran bujang seratus gadis seratus, maka hari ini kita tidak bisa menikmati beningnya air Sungai Merah yang selalu memberikan airnya ke setiap sumur sumur warga. Belum lagi ikan ikan yang menghuni lubuk lubuk, setiap hari masih bisa di tangkap warga desa kita untuk kebutuhan protein keluarganya," ujar ibu lagi.

"Kami bisa bayangkan jika tidak kita ceritakan dan terus diceritakan dri generasi ke generasi, maka ibu yakin bahwa semua kekayaan alam yang ada di desa kita cepat rusak dan mudah punah. Itulah sebabnya besek berisi sesaji sebenarnya hanya cara kami menjaga aset desa kita anaku," ucap ibu.

Baca juga: Libur Lebaran 2025, Pemprov Papua Barat Daya Siapkan Pemandu Wisata Kompeten

Suara jangkrik makin jelas terdengar sementara malam terus berlalu, rembulan mengintip malu-malu.

Waktu berlalu dengan sendu, ibuku masuk ke bilik kamarnya untuk beristirahat, sementara aku masih sibuk mencerna apa yang diceritakan ibuku.

Kokok ayam penanda pagi datang, bergegas aku bangun untuk ambil air wudu di belakang rumah.

Ibu terlihat tengah merebus air dan memasak untuk sarapan kami.

Senyum manis ibuku seperti menyapa, jagalah dirimu dan alami agar engkau bisa bertutur pada generasimu kelak. (*)

Karya: Yanto Bule

Sumber: TribunSorong
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved