Kamis, 9 April 2026

Wisata Raja Ampat

Jaga Ekosistem Laut, Sekda Raja Ampat: Pariwisata Raja Ampat Bukan Pariwisata Masal

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat ektra menjaga ekosistem alam dan menghindari wisata massal.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Willem Oscar Makatita | Editor: Ilma De Sabrini
zoom-inlihat foto Jaga Ekosistem Laut, Sekda Raja Ampat: Pariwisata Raja Ampat Bukan Pariwisata Masal
TRIBUNSORONG.COM/WILLEM OSCAR MAKATITA
Sekretaris Daerah kabupaten Raja Ampat Yusup Salim. 

TRIBUNSORONG.COM, WAISAI- Raja Ampat terkenal dengan wisata alam yang sangat indah.

Hal itu membuat banyak wisatawan dari mancanegara dan domestik mengunjungi tempat wisata yang dijuluki the last of paradise itu.

Banyaknya wisatawan yang melancong ke Raja Ampat membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat ektra menjaga ekosistem alam dan menghindari wisata Raja Ampat sebagai tempat wisata massal.

Hal itu disampaikan  Sekretaris Daerah (Sekda) Raja Ampat Yusup Salim di hadapan para guru dari satuan pendidikan di Raja Ampat.

Baca juga: Kisah Juara 3 Miss Global World Asal Raja Ampat, Whitney Lutrecia Dibully, Kini Bercita-cita Jaksa

Baca juga: Laris Manis, Noken Alfonsina di Raja Ampat Diserbu Bule

Menurutnya Pemkab Raja Ampat lebih mengedepankan sistem pembangunan pariwisata berkelanjutan. 

"Kami tidak mau ke depannya Raja Ampat hanya tinggal nama saja. Oleh karena itu Pemerintah Raja Ampat lebih menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menerapkan sistem pembangunan wisata berkelanjutan," ujar Sekda Yusup Salim di Waisai, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Senin (30/10/2023).

Sebagai informasi, tempat wisata massal merupakan tempat wisata dimana cenderung terlalu banyak wisatwan yang berkunjung di satu lokasi wisata.

Apabila pariwisata Raja Ampat menjadi tempat wisata massal maka dikhawatirkan akan merusak biota laut.

Ia pun menjelaskan jika wisata Raja Ampat merupakan wisata masal maka sudah barang tentu banyak orang yang mengunjungi spot-spot wisata tertentu.

Pariwisata Raja Ampat memang mahal, kata Yusup Salim, hal itu diterapkan agar tidak banyak orang yang berkunjung ke Raja Ampat, sehingga ekosistem alam di Raja Ampat tetap terjaga.

Jika menjadi tempat wisata massal, maka akan mengganggu ekosistem yang ada, seperti karang bisa terganggu.

Dia juga menjelaskan dampaknya terhadap jenis ikan yang terbanyak di Raja Ampat juga bisa saja pergi dan tidak kembali, karena sudah tidak merasa nyaman.


"Di spot-spot wisata tertentu ada batasan. Kami punya daya dukung lingkungan yang sudah dibuat, sehingga turis yang masuk di spot-spot itu dibatasi jumlah dan durasinya," ucapnya.

Ia pun tidak mau wisata Raja Ampat sama dengan Bunaken di Manado Sulawesi Utara lantaran akibat dibukanya penerbangan China-Manado, wisatawan membludak masuk di Bunaken, sehingga ekosistem alam tidak bisa terkontrol.

Yusup Salim mengatakan pihaknya tidak bisa menyamakan Raja Ampat dengan Bali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved