OPINI

Refleksi Seorang Suster Atas Bencana Alam di Pulau Sumatera: Berdiri dan Menatap

Indonesia berduka mendalam karena Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana hebat banjir dan longsor.

Editor: Jariyanto
Tribunnews.com/DWI PUTRA KESUMA
DAMPAK BANJIR DAHSYAT - Foto udara dampak banjir dahsyat di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025). Indonesia berduka mendalam karena Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana hebat banjir dan longsor, meluluhlantakkan daerah-daerah yang dilewati. 

Oleh: Sr. Anna Wiwiek (*)

TRIBUNSORONG.COM - Indonesia berduka mendalam karena Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana hebat banjir dan longsor, meluluhlantakkan daerah-daerah yang dilewati. 

Badan Nasional Penanggulan Bencara (BNPB) pada Kamis (04/12/2025) mencatat 836 jiwa menjadi korban, ratusan orang belum ditemukan, hingga ribuan mengungsi serta jutaan terdampak bencana tersebut. 

Beberapa dari kita mungkin familier dengan frasa "berdiri dan mentap" yang diambil dari puisi terkenal William Henry Davies berjudul "Waktu Senggang". 

Baca juga: Papua Barat Daya Perkuat Penanganan Bencana Lewat Bimtek PUSDALOPS PB

Puisi ini tentang menikmati dan merayakan keajaiban hidup sehari-hari.

Apakah kita generasi yang lupa dipenuhi rasa kagum dan takjub?

Puisi pendek ini patut dikenang, apalah arti hidup ini jika, penuh kekhawatiran, tak punya waktu untuk berdiri dan menatap.

Tak ada waktu untuk berdiri di bawah dahan Dan menatap selama domba atau sapi;

Tak ada waktu untuk melihat, saat kita melewati hutan, Tempat tupai menyembunyikan kacangnya di rerumputan;

Tak ada waktu untuk melihat, di siang bolong, Sungai-sungai penuh bintang, bagai langit di malam hari;

Tak ada waktu untuk menoleh pada tatapan Si Cantik, Dan memperhatikan kakinya, bagaimana ia menari;

Tak ada waktu untuk menunggu hingga mulutnya dapat Memperkaya senyum yang dimulai oleh matanya. 

Hidup yang malang ini, penuh dengan kekhawatiran, kita tak punya waktu untuk berdiri dan menatap.

Seperti yang ditegaskan Davies, butuh waktu untuk berdiri dan menatap, serta 'merasa tersesat'—merasa tersesat dalam keagungan alam, dan juga merasa tersesat dalam keindahan alam yang 'biasa'!

Baca juga: BPBD Kota Sorong Latih Lurah dan Warga Hadapi Potensi Bencana

Di dekat komunitas kami terdapat sebuah kanal yang air sungainya sesekali mengalir ketika dinas air melepaskan air untuk irigasi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved