Kamis, 7 Mei 2026

OPINI

Refleksi Seorang Suster Atas Bencana Alam di Pulau Sumatera: Berdiri dan Menatap

Indonesia berduka mendalam karena Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana hebat banjir dan longsor.

Tayang:
Editor: Jariyanto
zoom-inlihat foto Refleksi Seorang Suster Atas Bencana Alam di Pulau Sumatera: Berdiri dan Menatap
Tribunnews.com/DWI PUTRA KESUMA
DAMPAK BANJIR DAHSYAT - Foto udara dampak banjir dahsyat di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025). Indonesia berduka mendalam karena Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana hebat banjir dan longsor, meluluhlantakkan daerah-daerah yang dilewati. 

Ketika air seperti itu mengalir, sungguh indah melihat keluarga-keluarga berpiknik.

Ini bukan tempat piknik biasa, tetapi orang-orang sederhana ini menemukan keindahan dalam aliran air yang biasa ini dan mereka merayakan hidup dengan air yang mengalir.

Sayangnya, saat ini, kita terlalu 'sibuk' untuk menikmati keindahan hidup. 

Baca juga: Potensi Bencana Alam dan Sosial di Papua Barat Daya Tinggi, Perkuat Kapasitas SDM lewat Renkon

Fokus yang berlebihan pada kenyamanan manusia telah membuat kita mengalihkan perhatian pada eksploitasi, mengubah keinginan menjadi kebutuhan, dan menempatkan kemewahan buatan sebagai satu-satunya prioritas hidup.

Kita tampaknya telah kehilangan rasa estetika alami, kemampuan untuk merasakan keindahan di dalam dan di sekitar kita.  

Industri pariwisata komersial memproyeksikan beberapa tempat sebagai "menarik" dan banyak yang menjadi korban gimmick pemasaran ini. Namun, ini bukan berarti tempat-tempat ini tidak memiliki kualitas yang unik dan luar biasa.

Yang hilang adalah kegagalan kita untuk 'melihat' keindahan alam di sekitar kita. Apakah ini menandakan perubahan perspektif dan sikap? Mungkin.

Kita terjebak dalam gagasan pembangunan yang sulit dipahami dan apa yang kita sebut kemajuan dan kesuksesan hanya semakin mengasingkan kita dari alam, selain menyebabkan kerusakan ekologis yang meluas.

Gagasan pembangunan yang keliru ini, yang bersifat multidimensi, mengandung praktik-praktik yang tidak berkelanjutan dan menyebabkan perubahan permanen pada lanskap alam untuk kepentingan manusia.

Satu dari sejumlah dampak dari terjebak adalah ketidakmampuan untuk melupakan diri di tengah alam.

Baca juga: Ukur Kesiapsiagaan Bencana, BPBD se-Papua Barat Daya Ikuti Penilaian IKD

Banyak orang pergi ke pantai, tetapi alih-alih tersesat dalam keindahan laut biru yang murni, deburan ombak, kerang-kerang kecil yang sampai di pantai, hamparan pasir yang menawan, dan sebagainya.

Banyak yang justru terhanyut dalam ponsel mereka.

Mereka terjebak di dunia lain, kehilangan dunia di depan mereka. Ini berlaku untuk hampir semua aspek.  

Baca juga: Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana di Alun-alun Aimas, Ini Pesan Kapolda Papua Barat Daya

kehidupan kita,  praktik kebersihan sehari-hari, perjalanan, makan, istirahat dan rekreasi, berkebun, dan lain-lain.

Stimulasi sepanjang waktu, menempatkan diri sensual seseorang dalam keadaan kegembiraan dan kesenangan yang berlebihan serta status sosial sebagai prioritas tertinggi, pemeliharaan rasa iri, kesombongan, dan kecemburuan secara tidak sadar.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved